Elya Tati Subarkah, S.Pd. 2014. Model
Jigsaw dan Aplikasi BBM Untuk Meningkatkan Kompetensi Fungsi Limit
Pada Kelas XI IPA-5 SMA
Negeri 3 Purwokerto Semester 2 Tahun Pelajaran 2013/2014
ABSTRAK
Penelitian
tindakan kelas ini dilaksanakan bertujuan
untuk mengetahui sejauh mana penerapan
model pembelajaran
kooperatif tipe Jigsaw dan aplikasi
BBM dapat meningkatkan kompetensi fungsi
limit siswa kelas XI IPA-5 SMA Negeri 3 Purwokerto
semester 2 Tahun Pelajaran 2013/2014.
Untuk mencapai tujuan tersebut,
dalam pembelajaran Matematika diimplementasikan model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw dan apikasi
BBM. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI IPA-5 SMA Negeri 3 Purwokerto semester 2 Tahun
Pelajaran 2013/2014 yang
terdiri atas 36 orang. Objek penelitian adalah proses pembelajaran, peningkatan kompetensi, dan perubahan tingkah laku
peserta didik . Data hasil belajar Matematika siswa dikumpulkan menggunakan tes
prestasi belajar dalam bentuk uraian, dan data
aktivitas siswa dikumpulkan melalui observasi dengan instrument penilaian menggunakan
lembar observasi.
Selanjutnya data yang terkumpul dalam penelitian ini dianalisis secara
deskriptif.
Berdasarkan analisis data yang telah
ditetapkan, ditemukan bahwa setelah menerapkan model pembelajaran Kooperatif tipe
Jigsaw terjadi
peningkatan aktivitas dan hasil belajar pada Matematika siswa
kelas XI-IPA5 SMA Negeri 3 Purwokerto semester 2 tahun pelajaran 2013/2014 yaitu
pada siklus I dengan nilai rata-rata
sebesar 78,67 dan pada siklus II meningkat menjadi 83,00. Sedangkan
ketuntasan belajar siswa pada siklus I sebesar 81% meningkat pada siklus II
mencapai 86%. Aktivitas siswa pada siklus I tergolong katagori kurang aktif, pada siklus
II meningkat menjadi aktif.
Kata Kunci: model pembelajaran
Kooperatif tipe Jigsaw, aktivitas, hasil
belajar Matematika
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Matematika
dianggap pelajaran yang sulit oleh kebanyakan peserta didik, salah satu hal
yang berpengaruh terhadap hasil
pembelajaran matematika adalah metode pembelajaran matematika. Metode
pembelajaran matematika selama ini didominasi
dengan metode ceramah atau berpusat pada guru, sedangkan peserta didik sebagai
obyek pasif menyebabkan pembelajaran
matematika kurang bermakna.
Pembelajaran
kooperatif model Jigsaw
merupakan salah satu pembelajaran yang memiliki potensi lebih dalam meningkatkan prestasi
belajar peserta didik serta merupakan
model yang sederhana dan dapat
diterapkan pada hampir semua materi pelajaran yang menekankan pemahaman dan penguatan konsep.
Model pembelajaran matematika pada paradigma baru harus memenuhi empat pilar
pendidikan yaitu: (1) Proses learning to
know, (2) learning to do, (3) learning to be, (4) learning to live together, maka
teknik pembelajaran BBM
dapat diterapkan pada pembelajaran matematika. Perubahan pembelajaran
matematika dari paradigma lama ke paradigma baru merupakan tujuan utama dalam
penelitian ini untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik khususnya kelas
XI IPA-5 SMA Negeri 3 Purwokerto pada materi fungsi limit.
Dilandasi keinginan untuk mencari strategi pembelajaran
yang tepat dan efisien untuk meningkatkan hasil penguasaan materi fungsi limit dari
peserta didik kelas XI IPA-5 SMA Negeri 3 Purwokerto, maka peneliti
merasa perlu mengadakan penelitian tindakan kelas ini.
Dari uraian di atas, maka penulis melakukan suatu
penelitian tindakan kelas dengan judul Model Jigsaw dan Aplikasi BBM Untuk
Meningkatkan Kompetensi Fungsi Limit pada Kelas XI IPA-5 SMA
Negeri 3 Purwokerto Semester 2 Tahun Pelajaran 2013/2014.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana
proses pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe Jigsaw
dengan aplikasi BBM dapat
meningkatkan hasil prestasi belajar peserta didik kelas XI IPA-5 semester 2 tahun pelajaran 2013/2014?
2. Seberapa banyak peningkatan kompetensi fungsi
limit setelah diberikan pembelajaran dengan menggunakan model Jigsaw dengan aplikasi
BBM pada peserta didik kelas XI IPA-5 semester 2 tahun pelajaran 2013/2014?
3. Bagaimana
perubahan tingkah laku/sikap siswa yang menyertai peningkatan kompetensi fungsi
limit setelah diberikan
pembelajaran dengan model Jigsaw dengan aplikasi BBM pada peserta didik kelas XI IPA-5 semester 2 tahun pelajaran
2013/2014?
C.
Tujuan
Penelitian
1.
Mendeskripsikan
proses pelaksanaan pemebelajaran dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe Jigsaw dengan aplikasi BBM pada siswa kelas XI IPA -5 semester 2 tahun pelajaran
2013/2014.
2. Mendeskripsikan peningkatan
kompetensi fungsi limit
setelah diberikan pembelajaran dengan menggunakan model Jigsaw dengan aplikasi BBM pada kelas XI IPA-5 semester 2 tahun pelajaran 2013/2014.
3.
Mendeskripsikan perubahan tingkah laku/sikap siswa yang menyertai peningkatan
kompetensi fungsilimit
setelah diberikan pembelajaran melalui model Jigsaw dengan aplikasi BBM pada kelas XI IPA-5 semester 2 tahun pelajaran 2013/2014.
D. Manfaat Penelitian
1.
Bagi peserta didik hasil penelitian ini dapat
dijadikan motivasi untuk meningkatkan prestasi belajar, khususnya dalam
peningkatan hasil belajar pada materi fungsi limit.
2. Bagi guru hasil penelitian ini dapat
dijadikan sebagai acuan untuk meningkatkan kompetensi guru dengan menciptakan metode
pembelajaran yang variatif, dan menyenangkan melalui pemilihan metode yang tepat khususnya dalam
pembelajaran fungsi limit.
3) Kepala Sekolah hasil penelitian ini dapat
dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di
sekolah dalam hal pemilihan model pembelajaran.
BAB II
LANDASAN
TEORETIS
A.
Landasan Teori
Menurut Endrati (2010) dalam penelitiannya yang
berjudul “ Peningkatan
Kompetensi Fungsi Turunan dengan Model STAD, Aplikasi Partinem-Ku pada Kelas XI IPA-7 SMA Negeri I Purworejo
Semester 2 Tahun Pelajaran 2010/2011”, menunjukan
bahwa dengan metode STAD, aplikasi PARTINEM-KU
prestasi belajar peserta didik meningkat pada siklus 1 prosentase
ketuntasan 70% dan pada siklus 2 menjadi 96,6%.
Menurut Suryadharma (2011) dalam penelitiannya yang
berjudul “Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Matematika
melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe Jigsaw pada Siswa Kelas
XII IPA SMA Negeri 1 Dompu Semester 1 Tahun Pelajaran 2012/2013, menunjukkan
bahwa penggunaan model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw terjadi peningkatan
aktivitas dan hasil belajar pada Matematika siswa kelas XII IPA SMA Negeri 1 Dompu semester 1 tahun
pelajaran 2012/2013 yaitu pada siklus I dengan nilai rata-rata sebesar 75,00 dan pada siklus II meningkat
menjadi 80,20. Sedangkan
ketuntasan belajar siswa pada siklus I sebesar 77,50% meningkat pada siklus II
mencapai 87,50%. Aktivitas siswa pada siklus I tergolong katagori kurang aktif,
pada siklus II meningkat menjadi aktif.
Ada
bermacam-macam metode yang digunakan pada PTK di atas yaitu STAD dan metode kooperatif model Jigsaw, dimana
keduanya adalah strategi, dan teknik pembelajaran yang diterapkan di dalam
kelas. Pendekatan tersebut ditempuh guru dalam pelaksanaan pembelajaran agar
konsep yang disajikan dapat diadaptasi oleh peserta didik. Dari hal
tersebut dapat disimpulkan bahwa suatu pendekatan dalam pembelajaran di tempuh
oleh pendidik supaya peserta didik lebih aktif, lebih bisa bekerja sama dan
saling menghormati pendapat orang lain serta mendapatkan hasil belajar yang
optimal.
Berdasarkan penelitian di atas bahwa materi fungsi limit mempunyai
kompleksitas yang tinggi dibuktikan dengan banyaknya peserta didik
yang masih mendapat nilai dibawah KKM, dan pada penelitian di atas menunjukan
perlunya suatu perubahan metode maupun pendekatan yang sesuai untuk materi fungsi
limit.
B.
Kajian Pustaka
1.
Pembelajaran
Kooperatif Jigsaw
Shlomo Sharan
(2012: 411) mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif menempati tempat
utama dalam pengajaran matematika. Pembelajaran kooperatif dengan
kelompok-kelompok kecil mampu menyediakan sebuah forum dimana siswa dapat
mengajukan pertanyaan, mendiskusikan gagasan/jawaban, membuat kesalahan, belajar mendengarkan
ggasan orang lain, menawarkan kritik yang
membangun dan meringkas penemuan-penemuan mereka dalam tulisan. Para
siswa belajar dari berbicara, mendengarkan , menjelaskan dan berpikir bersama
orang lain.
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, model ini dikembangkan oleh Elliot Aronson dan
teman-temannya di Universitas Texas. Dan diadopsi oleh slavin dan
teman-temannya di Universitas John Hopkins. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah sebuah model pembelajaran
yang menitikberatkan pada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil. Hal
yang mendasar pada model Jigsaw ini
adalah siswa sebagai anggota kelompok asal pada dasarnya memiliki sebuah
pemahaman konsep sedangkan konsep-konsep lain didapatkan melalui diskusi
kelompok dengan anggota kelompoknya. Guru sebagai motivator dan mediator pada
saat diskusi kelompok asal maupun kelompok ahli berlangsung.
Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw memiliki
sejumlah keunggulan bila dibandingkan dengan tipe yang lainnya. Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw antara
lain sebagai berikut.
1)
Siswa
secara individu dalam kelompok asal diberikan materi persub bab, sehingga
lebih mudah memahami materi;
2)
Melalui diskusi kelompok ahli, pemahaman materi
menjadi lebih mendalam dan spesifik;
3)
Meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap
pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain;
4)
Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan
pada kelompok asal, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan
materi tersebut pada anggota kelompok yang lain, sehingga pengetahuannya jadi
bertambah;
5) Meningkatkan kerja
sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan.
Walaupun model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw
memiliki sejumlah keunggulan sebagaimana diuraikan di atas, model pembelajaran
kooperatif
tipe Jigsaw juga
memiliki beberapa kelemahan, antara lain
sebagai berikut.
1)
Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw memerlukan persiapan khusus
yang menuntut guru bekerja ekstra misalnya dalam mempersiapkan LKS atau media
lainnya, sehingga kurang diminati oleh guru dalam pembelajaran di kelas.
2)
Membutuhkan waktu yang lebih lama, bila penataan
ruang belum terkondisi dengan baik sehingga perlu waktu untuk merubah posisi
yang dapat menimbulkan kegaduhan.
Langkah-langkah
pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw:
a.
Siswa
dibagi atas beberapa kelompok (tiap kelompok anggotanya 4-5 orang).
b.
Materi
pelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks yang telah dibagi-bagi
menjadi beberapa sub bab.
c.
Setiap
anggota kelompok membaca sub bab yang ditugaskan dan bertanggung jawab untuk
mempelajarinya.
d.
Anggota
dari kelompok lain yang telah mempelajari sub bab yang sama bertemu dalam
kelompok-kelompok ahli untuk mendiskusikannya.
e.
Setiap
anggota kelompok ahli setelah kembali ke kelompoknya bertugas mengajar
teman-temannya.
f.
Setiap anggota kelompok asal diharapkan memahami
materi/konsep yang sama melalui diskusi dalam kelompoknya.
g.
Guru memberikan tes tulis pada siswa untuk dikerjakan
yang memuat seluruh konsep yang didiskusikan
2.
Pembelajaran BBM
Pada kesempatan ini
penulis akan memperkenalkan Pembelajaran BBM ( Berpikir Aktif, Berdiskusi dan Mempresentasikan).
1. Berpikir aktif dalam matematika.
Berpikir aktif atau yang akrab kita kenal dengan istilah Cara
Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Learning (SAL). Pengertian
CBSA sendiri tidak mudah didefinisikan secara tegas, sebab bukankah belajar itu
sendiri wujud dari keaktifan siswa. Keaktifan ada yang tidak dapat diukur atau
diamati, misalnya menggunakan khasanah pengetahuannya untuk memecahkan masalah
serta dalam memilih teorema-teorema.
Menurut Tim
Instruktur PKG sebagaimana dikutip oleh Surya Dharma (2011:16), siswa dikatakan memiliki keaktifan apabila ditemukan
ciri-ciri sebagai berikut.
a)
Antusiasme mengikuti pembelajaran ditandai dengan adanya
perilaku: a) memperhatikan penjelasan guru, b) tidak mengerjakan pekerjaan lain
saat mengikuti pembelajaran, c) spontan bekerja apabila diberi tugas, dan d) tidak
terpengaruh situasi di luar kelas.
b)
Terjadi interaksi antara siswa dengan guru ditandai dengan
adanya peran siswa dalam: a) bertanya
kepada guru, b)
menjawab pertanyaan guru, c) memanfaatkan
guru sebagai narasumber, dan d)
memanfaatkan guru sebagai fasilitator.
c)
Terjadi interaksi antara siswa dengan siswa ditandai dengan
adanya perilaku: a) bertanya
kepada teman dalam satu kelompok, b) menjawab
pertanyaan teman dalam satu kelompok, c) bertanya
kepada teman dalam kelompok lain, dan d)
menjawab pertanyaan teman dalam kelompok lain.
d)
Adanya kerjasama kelompok ditandai dengan perilaku: a) membantu
teman dalam kelompok yang menjumpai masalah, b) meminta bantuan
kepada teman, jika mengalami masalah, c) mencocokkan jawaban/konsepsinya dalam satu kelompok, dan d) Adanya
pembagian tugas dalam kelompok.
e)
Aktivitas siswa dalam kelompok ditandai dengan
adanya peran siswa
dalam:
a) mengemukakan
pendapat, b) menanggapi
pertanyaan/pendapat teman sejawat, c) mengerjakan
tugas kelompok, dan d)
menjelaskan pendapat/pekerjaannya.
f)
Partisipasi siswa dalam menyimpulkan materi pelajaran dapat dilihat
dengan adanya perilaku siswa: a) mengacungkan tangan untuk ikut menyimpulkan, b) merespon
pernyataan/simpulan temannya, c) menyempurnakan
simpulan yang dikemukakan oleh temannya, dan d) menghargai
pendapat temannya.
2. Berdiskusi Secara Berkelompok
Moh.
Surya (1975:107) mendefinisikan diskusi kelompok merupakan suatu proses
bimbingan dimana murid-murid akan mendapatkan suatu kesempatan untuk menyumbangkan
pikiran masing-masing dalam memecahkan masalah bersama. Dalam diskusi ini
tetanam pula tanggung jawab dan harga diri.
Moh.
Uzer Usman (2005:94) menyatakan bahwa diskusi kelompok merupakan suatu proses
yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang
informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan atau
pemecahan masalah.
Berdasarkan
pengertian diskusi kelompok tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
diskusi kelompok yaitu suatu cara atau teknik bimbingan yang melibatkan
sekelompok orang dalam interaksi tatap muka, dimana setiap anggota kelompok
akan mendapatkan kesempatan untuk menyumbangkan pikiran masing-masing serta
berbagi pengalaman atau informasi guna pemecahan masalah atau pengambilan
keputusan. Dalam diskusi kelompok anggota kelompok menunjuk moderator
(pimpinan), menentukan tujuan, dan agenda yang harus ditaati.
3. Menjelaskan / Mempresentasikan
Presentasi
berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti menyajikan atau mengemukakan. Atau
secara jelasnya presentasi bisa diartikan menyajikan atau mengemukakan
informasi kepada orang lain dengan tujuan bermacam-macam seperti, memberi tahu,
mempengaruhi ataupun mengajak (persuasif).
Tujuan
dari presentasi dalam proses pembelajaran bermacam-macam, misalnya untuk
memberi informasi, untuk meyakinkan peserta, menyampaikan pesan
dan bahkan untuk melakukan penilaian.
C.
KERANGKA BERPIKIR
Model
pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dengan aplikasi BBM ini bukan suatu alternatif
bagi pendekatan pembelajaran matematika yang lain melainkan lebih sebagai
komplemen (pelengkap) bagi pendekatan lainnya. Pendekatan BBM ini dikhususkan untuk melatih keteramplian berpikir lebih tinggi yaitu mengomunikasikan.
Secara umum dalam pembelajaran dengan aplikasi BBM, peserta
didik menjelaskan jawaban dengan bahasanya sendiri, memperoleh kesenangan dalam menemukan jawaban yang
diharapkan, berperan aktif dalam menyatakan pendapatnya, dan memperoleh
pengalaman menemukan atau mencari hal-hal baru dengan menggunakan pengetahuan,
keterampilan dan penalaran matematis yang telah dimiliki sebelumnya.
Dalam pembelajaran BBM kreativitas siswa dapat berkembang, pengalaman BBM yang dilakukan secara individu dan
kelompok yang dilanjutkan dengan kegiatan diskusi antar kelompok dapat
menumbuhkan sikap positif pada diri siswa. Peserta didik belajar menghargai
pendapat dan hasil pekerjaan orang lain, serta berani mengemukakan pendapatnya
sendiri.
Dengan pembelajaran model Jigsaw aplikasi BBM
diharapkan partisipasi siswa dalam
pembelajaran matematika kelas XI IPA-5 akan
meningkat sehingga akhirnya hasil belajar peserta didik juga meningkat pula.
D. HIPOTESIS TINDAKAN
Dengan model pembelajaran jigsaw dengan aplikasi BBM ini diharapkan
peserta didik kelas XI IPA-5 SMA Negeri 3 Purwokerto dapat mengikuti
proses pembelajaran dengan serius, menguasai
materi dan meningkatkan prestasi belajarnya. Melalui
model pembelajaran tipe Jigsaw dengan aplikasi BBM dapat merubah tingkah laku/sikap
peserta didik kelas XI IPA-5 SMA Negeri 3 Purwokerto.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Subyek Penelitian dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 3
Purwokerto yang terletak di Jl Kamandaka Barat no 3 Karangsalam Kecamatan Kedung Banteng Kabupaten Banyumas pada bulan April –
Mei. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas
XI IPA-5 SMA Negeri 3 Purwokerto semester 2 tahun pelajaran 2013-2014 yang berjumlah
36 peserta didik. Penerapan penelitian ini diterapkan dalam
pokok bahasan fungsi limit. Obyek dari penelitian ini adalah meningkatkan
kompetensi fungsi limit.
B. Jenis dan Prosedur Penelitian
Jenis
penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Pendekatan yang digunakan
dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Adapun pelaksanaan
penelitian tindakan ini dilakukan dalam 2 siklus, dan dianalisis pada setiap
siklus,selanjutnya dilakukan refleksi pada siklus pertama.
Prosedur
penelitian ini dapat dijelaskan melalui Gambar 1.
Pelaksanaan penelitian ini
mengikuti prosedur sebagai berikut : (1) perencanaan; (2) pelaksaan tindakan;
(3) pemantauan (observasi) dan refleksi (4)
![]() |
|||
|
|||
Siklus
1
a. Perencanaan
Kegiatan
yang akan dilakukan pada tahap perencanaan adalah (a) Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), (b) Penyusunan
perangkat pembelajaran yang terdiri : (1) Bahan Ajar, (2) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP), (3) Lembar Kegiatan Siswa (LKS), (6) Alat
evaluasi berupa tes produk dan tes proses.
b. Pelaksanaan
Tindakan
Pembelajaran dengan menggunakan model
pembelajaran langsung pelaksanaannya sebagai berikut (a) Guru menyampaikan tujuan, (2) Guru mendemonstrasikan dan menemukan solusi materi
pelajaran,(3) Guru memberikan latihan awal tentang
materi yang telah dipelajari, (4) Guru memberikan latihan lanjutan tentang
materi yang telah dipelajari.
c. Observasi
Pemantauan atau
observasi dengan penelitian adalah kegiatan mengamati dan mendokumentasi segala
sesuatu yang berkaitan dengan tindakan yang
dilakukan.
d. Refleksi dan Analisis
Kegiatan refleksi ini dapat
dipandang sebagai upaya untuk memahami dan memaknai proses dan hasil.
Siklus II
Perencanaan tindakan hasil
refleksi pada siklus I digunakan sebagai dasar menyusun perencanaan pada siklus
II. Kegiatan yang dilakukan adalah: (1) membuat RPP,(2) mempersiapkan lembar
observasi, (3) mempersiapkan lembar wawancara (4) mempersiapkan lembar kerja
siswa sebagai media pembelajaran, (5) mempersiapkan soal tes.
a. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan pada
siklus II pada intinya sama seperti pada siklus I yaitu
guru mengajar siswa dengan menggunakan RPP yang telah dibuat.
b.Observasi
Observasi dilakukan oleh
peneliti.
c.Refleksi
Refleksi siklus II digunakan untuk membedakan
hasil siklus I dengan siklus II apakah ada peningkatan partisipasi dari hasil
belajar siswa atau tidak.
C.
Indikator
Kinerja
Indikator
yang dapat diperoleh 85 % siswa mampu
mengerjakan soal-soal materi yang diberikan pada saat penelitian dengan nilai
diatas KKM.
D. Teknik
Pengumpulan Data
Sumber data adalah siswa, sedangkan guru sebagai peneliti. Data dalam
penelitian ini yaitu data kualitatif berupa data hasil observasi terhadap
proses pembelajaran (pelaksanaan tindakan) dan data kuantitatif yang berupa
hasil pekerjaan siswa berupa tes buatan guru. Cara pengumpulan data yaitu tes
tertulis dan lembar observasi.
E. Teknik
Analisis Data
Analisis proses tindakan dilakukan secara
kualitatif. Sementara itu, analisis hasil tindakan dilakukan secara
kuantitatif. Analisis proses tindakan (kualitatif) dilakukan guru pada saat refleksi yang didasarkan dari
data yang ada.
Hasil tes siswa pada akhir siklus
dihitung rata-ratanya. Hasil tes pada siklus I dibandingkan dengan siklus II.
Jika mengalami kenaikan maka diasumsikan model pembelajaran yang digunakan yaitu
model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dalam
pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Teknik analisis data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis
deskriptif dengan menghitung prosentase.
Rumusnya sebagai berikut :
Rata-rata = Jumlah Nilai
yang diperoleh siswa : Jumlah siswa
F.
Indikator
Keberhasilan
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini
adalah (1) Meningkatnya partisipasi
siswa dalam pembelajaran matematika fungsi limit
yang dilihat selama proses pembelajaran berlangsung, maupun dari peningkatan
rata-rata prosentase setiap aspek partisipasi yang diamati yaitu (a) Mengajukan
pertanyaan jika ada hal-hal yang belum jelas.(b) menjawab pertanyaan yang
diajukan, (c) Mengerjakan tugas secara tuntas, (d) Ikut serta dalam diskusi, mencatat
materi pelajaran, (e) Mengerjakan soal di papan tulis, (f) Mengerjakan tes
secara individu, (g) Menyimpulkan materi pelajaran di akhir pertemuan (2) Meningkatnya
rata-rata hasil belajar fungsi limit dari
rendah menjadi tinggi, (3) Perubahan tingkah laku/sikap anak dalam mengikuti
pembelajaran.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYA
A. Deskripsi Setting Penelitian
Setting dalam penelitian ini
adalah SMA Negeri 3 Purwokerto, terletak di Jalan Kamandaka Barat No 3. Subyek yang digunakan dalam
penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA-5 SMA Negeri 3 Purwokerto.
B. Hasil Penelitian
1.
Prasiklus
Kegiatan
prasiklus dilaksanakan pada hari senin 7 April 2014. Prasiklus dilakukan untuk
mengetahui kemampuan awal materi fungsi limit,
sebelum peserta didik diberi tindakan. Kegiatan
awal ini mengulang kembali materi prasyarat limit fungsi yang sudah
diterima sebelumnya dengan memberikan latihan soal yang berhubungan dengan pemfaktoran, merasionalkan dan perkalian sekawan.
2. Siklus 1
Pertemuan Pertama
a.
Perencanaan
Pada tahap perencanaan dilakukan persiapan
pembelajaran fungsi limit dengan menyusun rencana pembelajaran terlebih dahulu sesuai
tindakan yang akan dilakukan dengan memperhatikan aplikasi BBM.
b. Tindakan
Tindakan yang dilakukan
disesuaikan dengan RPP yang telah disusun.Pelaksanaan tindakan dalam siklus 1
meliputi apersepsi, proses pembelajaran, dan evaluasi. Pada kegiatan ini
peneliti akan membegi peserta didik menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok
terdiri dari 4 peserta didik yang heterogen (laki-laki dan perempuan berasal dari
berbagi ras, dan kemampuannya heterogen). Setelah itu guru membagikan LKS ke
masing-masing kelompok untuk dikerjakan.

Gambar 1. Guru membimbing siswa dalam kerja kelompok
Pada gambar 1 tampak peserta didik
mulai mengerjakan LKS, Dengan aplikasi BBM tampak bahwa peserta
didik bertanggung jawab dengan tugas yang diberikan, dengan kelompoknya mereka
bisa saling membantu. Setelah selesai masing-masing kelompok mempresentasikan
hasil diskusi yang telah dilakukan.
Pertemuan kedua

Gambar 2. Ulangan
Harian
Pada
pertemuan ini diadakan ulangan harian. Adapun hasil ulangan harian dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1.
Hasil Pre
test dan UH 1
|
No
|
Jenis Soal
|
Rata-rata
|
Tertinggi
|
Terendah
|
% Tuntas
|
|
1
|
Pre Test
|
66,3
|
95
|
23
|
52%
|
|
2
|
UH 1
|
78,7
|
100
|
65
|
81%
|
c. Refleksi
Berdasarkan
hasil tes dan nontes di atas dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran pada siklus 1 ini belum memuaskan. Pada hasil
tes terlihat bahwa rata-rata pada 78,7% dan termasuk kategori cukup.
Sehingga belum mencapai target yang ditentukan karena masih ada peserta didik
yang belum tuntas, sedang target yang ditentukan semua peserta didik harus
tuntas.
3. Siklus II
Pertemuan Pertama
a. Perencanaan/Persiapan
Peneliti menyusun rencana
pembelajaran dengan tindakan yang berbeda dengan tindakan pada siklus 1.
Penyusunan rencana pembelajaran dibuat peneliti..
b.Tindakan
Pada pertemuan pertama dalam siklus 2 ini, guru membentuk kelompok
belajar dalam satu kelompok terdiri dari empat peserta didik, yang
pengelompokannya berdasarkan hasil tes
pada siklus 1 dan heterogen.

Gambar 3. Mengerjakan LKS pada kelompok di siklus 2
Setelah 30 menit maka guru segera meminta peserta didik
untuk menyiapkan presentasi. Karena ada 9 kelompok dan masing-
masing kelompok ada yang mendapatkan LKS yang sama , maka untuk presentasi kali
ini tidak semua kelompok mempresentasikan hasil diskusinya.

Gambar 5 Presentasi
Pertemuan
kedua
Pada pertemuan kedua
ini merupakan lanjutan dari pertemuan pertama. Pembahasan pekerjaan rumah dan
pelatihan berlangsung 30 menit dan setelah itu guru segera menyelesaikan materi
terakhir pada fungsi limit
yaitu limit tak hingga.
Pertemuan ketiga
Pada pertemuan ketiga adalah
pelaksanaan UH pada siklus 2

Gambar 6 UH siklus 2
c.
Monitoring
Penelitian
Selama proses
pembelajaran berlangsung, peneliti melakukan pengamatan terhadap peserta didik
dengan menggunakan lembar observasi. Setelah kegiatan pembelajaran selesai guru
mengadakan wawancara dengan beberapa peserta didik untuk mengetahui tanggapan,
kesan dan pesan peserta didik selama mengikuti pembelajaran
d. Refleksi
Pada siklus 2 diperoleh catatan dari lembar observasi
tentang keaktifan peserta didik yang diperoleh selama pembelajaran sebagai data
kualitatif. Sedangkan data kuantitatif diambil dari hasil tes setelah proses
pembelajaran selesai. Hasilnya dibandingkan dengan hasil tes pada siklus 1.
Adapun hasil ulangan harian pada siklus 1 dirata-rata dan dibandingkan dengan
hasil tes siklus 2. Ternyata nilai rata-rata siklus 2 lebih tinggi dibanding
siklus 1. Untuk nilai tertinggi 100,
demikian pula untuk yang nilai terendah dari 65 menjadi 70.
Ketuntasan kelas juga mengalami kenaikan dari 81% menjadi 86%.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajarann pada siklus 2 mengalami
peningkatan yang signifikan dari siklus1.
Perbandingan hasil tes siklus 1 dan hasil tes siklus 2
Peningkatan
hasil belajar pada siklus 1 dan siklus 2 dapat dilihat pada tabel hasil tes
pada siklus 1 dan hasil tes pada siklus 2
Tabel 2. . Perbandingan
hasil tes siklus 1 dan hasil tes siklus 2
|
No
|
Jenis Tagihan
|
Rata-rata
|
Tertinggi
|
Terendah
|
% Tuntas
|
|
1
|
Pra Siklus
|
66,3
|
94
|
23
|
52%
|
|
2
|
Siklus 1
|
78,7
|
100
|
65
|
81%
|
|
3
|
Siklus 2
|
83
|
100
|
70
|
86%
|
Histogram peningkatan
hasil belajar pada siklus 1 dan siklus 2

BAB V
PENUTUP
A.
SIMPULAN
1. Dalam
proses pembelajaran peserta didik menjadi lebih aktif, antusias, dan suasana
kelas menjadi lebih hidup. Hasil analisis nilai kompetensi fungsi limit makin meningkat.
2. Penggunaan
model pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dengan aplikasi BBM dapat
meningkatkan kompetensi fungsi limit
pada kelas XI IPA-5 semester
2 tahun pelajaran 2013/2014 dapat dilihat peningkatan
ketuntasan hasil belajar dari prosentase 81% pada siklus 1 menjadi 86% pada siklus 2.
3. Pada
siklus II terjadi perubahan tingkah laku, sikap peserta didik nyata bisa dilihat dari cara berdiskusi, bekerja sama
dalam menyelesaikan masalah atau tugas yang diberikan guru. Hal ini menunjukan
bahwa kegiatan pembelajaran dengan model Jigsaw dan aplikasi BBM dapat merubah tingkah laku peserta didik
kelas XI IPA-5 SMA
Negeri 3 Purwokerto semester 2 tahun pelajaran
2013/2014.
B. SARAN
1. Bagi
peserta didik yang sudah mempunyai hasil baik harus tetap dipertahankan dan
bagi yang masih dalam kategori cukup perlu ditingkatkan.
2. Bagi
peneliti yang lain, dapat mengadakan penelitian dengan menggunakan model Jigsaw dan aplikasi BBM pada pokok bahasan lain .
3. Bagi
sekolah, pembelajaran ini perlu dikembangkan lagi dan ditindaklanjuti sebagai
alternatif metode pembelajaran pada mata pelajaran yang lain..
DAFTAR PUSTAKA
Montarsih, 2009. Petunjuk Praktis
Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang
( UM ) Press.
Shlomo Sharan, The Handbook Of Cooperatif Learning. Yogyakarta : Penerbit Familia
Suliyanto, 2012. Analisis Statistik. Yogyakarta:
Penerbit Andi Yogyakarta
Suharsimi Arikunto, 2010. Penelitian Tindakan Untuk Guru,
Kepala Sekolah dan Pengawas. Yogyakarta: Penerbit Aditya Media
Subyantoro. 2009. Penelitian
Tindakan Kelas. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
................. 2012. Modul PLPG Matematika. Purwokerto
: Penerbit Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Surya Darma, 2011. Meningkatkan
Aktivitas dan Hasil Belajar Matematika melalui Penerapan Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Jigsaw pada Siswa Kelas
XII IPA SMA Negeri 1 Dompu Semester 1 Tahun Pelajaran 2012/2013.Laporan
Penelitian
Endrati,
2010. Peningkatan Kompetensi Fungsi Turunan dengan
Model STAD, Aplikasi Partinem-Ku pada
Kelas XI IPA-7 SMA Negeri I Purworejo Semester 2 Tahun Pelajaran 2010/2011”. Laporan Penelitian
BIODATA PENULIS

Nama Lengkap : Elya Tati Subarkah,S.Pd
Tempat tanggal
lahir : Banyumas, 12 Januari 1976
Alamat Rumah : Pasir
Wetan Rt 03 Rw 02
Karanglewas
Alamat Instansi/Kantor :
Jl Kamandaka
Barat No 3 Karangsalam Kedung Banteng Purwokerto
Agama : Islam
Nomor Telepon : 081327503633
Riwayat Pendidikan :
SDN 2 Pasir Wetan
SMPN
4 Purwokerto
SMAN
2 Purwokerto
UNNES
Semarang
Lampiran
1
Jadwal
Kegiatan
|
Siklus
|
Hari/tanggal
|
Kegiatan
|
Instrumen
|
Observer
|
|
Pra Siklus
Siklus 1
|
Kamis, 10 April
2014
Kamis, 24 April
2014
|
1.Guru menyampaikan
tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa
2. Menyampaikan
petujuk/informasi
3. Guru menjelaskan Pengertian
limit
4. Guru memberikan
letihan-latihan soal.
5. Guru memberi PR.
6.Mengorganisasikan siswa
ke dalam kelompok-kelompok (4 siswa)
7.Membimbing kelompok
kerja dan belajar
|
LKS 1,2,3.4
|
Peneliti
Peneliti mengevaluasi pelajaran yang
telah dipelajari dengan masing-masng kelompok melaporkan hasil kerjanya.
|
|
|
Jumat,25 April 2014
|
8.latihan
soal
|
soal
|
Peneliti
|
|
|
Sabtu, 26 April 2014
|
9.Evaluasi
|
soal
|
Peneliti
|
|
Siklus 2
|
Kamis, 1 Mei 2014
|
10.Mengorganisasikan siswa
ke dalam Kelompok-kelompok kecil (36 siswa)
11. Membimbing kelompok kerja dan belajar
belajar
|
LKS
|
Peneliti
Peneliti mengevaluasi pelajaran yang
telah dipelajari dengan masing-masing
kelompok melaporkan hasil kerjanya.
|
|
|
Jumat,2 Mei 2014
|
12.Materi
|
soal
|
Peneliti
|
|
|
Sabtu,3 mei 2014
|
13.Evaluasi
|
soal
|
Peneliti
|
