Sabtu, 10 Desember 2016

Elya Tati Subarkah, S.Pd. 2014. Model Jigsaw dan Aplikasi BBM Untuk Meningkatkan Kompetensi Fungsi Limit Pada Kelas XI IPA-5 SMA Negeri 3 Purwokerto Semester 2 Tahun Pelajaran 2013/2014

ABSTRAK

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan bertujuan  untuk mengetahui sejauh mana penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan aplikasi BBM dapat meningkatkan kompetensi fungsi limit siswa kelas XI IPA-5 SMA Negeri 3 Purwokerto semester 2 Tahun Pelajaran 2013/2014.
            Untuk mencapai tujuan tersebut, dalam pembelajaran Matematika diimplementasikan model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw dan apikasi BBM. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI IPA-5 SMA Negeri 3 Purwokerto semester 2 Tahun Pelajaran 2013/2014 yang terdiri atas 36 orang. Objek penelitian adalah proses pembelajaran, peningkatan kompetensi, dan perubahan tingkah laku peserta didik . Data hasil belajar Matematika siswa dikumpulkan menggunakan tes prestasi belajar dalam bentuk uraian, dan data aktivitas siswa dikumpulkan melalui observasi dengan instrument penilaian menggunakan lembar observasi. Selanjutnya data yang terkumpul dalam penelitian ini dianalisis secara deskriptif.
            Berdasarkan analisis data yang telah ditetapkan, ditemukan bahwa setelah menerapkan model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw terjadi peningkatan aktivitas dan hasil belajar pada Matematika siswa kelas XI-IPA5 SMA Negeri 3 Purwokerto semester 2 tahun pelajaran 2013/2014 yaitu pada siklus I dengan nilai rata-rata  sebesar 78,67 dan pada siklus II meningkat menjadi 83,00. Sedangkan ketuntasan belajar siswa pada siklus I sebesar 81% meningkat pada siklus II mencapai 86%. Aktivitas siswa pada siklus I tergolong katagori kurang aktif, pada siklus II meningkat menjadi aktif.


Kata Kunci: model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw, aktivitas, hasil belajar Matematika

BAB I
                                          PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Matematika dianggap pelajaran yang sulit oleh kebanyakan peserta didik, salah satu hal yang berpengaruh  terhadap hasil pembelajaran matematika adalah metode pembelajaran matematika. Metode pembelajaran matematika selama ini didominasi dengan metode ceramah atau berpusat pada guru, sedangkan peserta didik sebagai obyek pasif menyebabkan pembelajaran  matematika kurang bermakna.
Pembelajaran kooperatif model Jigsaw merupakan salah satu pembelajaran yang memiliki potensi lebih dalam meningkatkan prestasi belajar peserta didik  serta merupakan model yang sederhana dan dapat diterapkan pada hampir semua materi pelajaran yang menekankan pemahaman dan penguatan konsep.
Model pembelajaran matematika pada paradigma baru harus memenuhi empat pilar pendidikan yaitu: (1) Proses learning to know, (2) learning to do, (3) learning to be, (4) learning to live together,  maka  teknik pembelajaran BBM dapat diterapkan pada pembelajaran matematika. Perubahan pembelajaran matematika dari paradigma lama ke paradigma baru merupakan tujuan utama dalam penelitian ini untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik khususnya kelas XI IPA-5 SMA Negeri 3 Purwokerto pada materi fungsi limit.
Dilandasi keinginan untuk mencari strategi pembelajaran yang tepat dan efisien untuk meningkatkan hasil penguasaan materi fungsi limit dari peserta didik kelas XI IPA-5 SMA Negeri 3 Purwokerto, maka  peneliti merasa perlu mengadakan penelitian tindakan kelas ini.
Dari uraian di atas, maka penulis melakukan suatu penelitian tindakan kelas dengan judul Model Jigsaw dan Aplikasi BBM  Untuk Meningkatkan Kompetensi Fungsi Limit pada Kelas XI IPA-5 SMA Negeri 3 Purwokerto Semester 2 Tahun Pelajaran 2013/2014.

B.   Rumusan Masalah
1.    Bagaimana proses pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dengan aplikasi BBM dapat meningkatkan hasil prestasi belajar peserta didik  kelas XI IPA-5 semester 2 tahun    pelajaran 2013/2014?
2.  Seberapa banyak peningkatan kompetensi fungsi limit setelah diberikan   pembelajaran dengan menggunakan model Jigsaw dengan aplikasi BBM  pada peserta didik  kelas XI IPA-5 semester 2 tahun pelajaran 2013/2014?
3. Bagaimana perubahan tingkah laku/sikap siswa yang menyertai peningkatan kompetensi fungsi limit setelah diberikan pembelajaran dengan  model Jigsaw dengan aplikasi BBM  pada peserta didik kelas XI IPA-5 semester 2 tahun pelajaran 2013/2014?


C.   Tujuan Penelitian
1.    Mendeskripsikan proses pelaksanaan pemebelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif  tipe Jigsaw dengan aplikasi BBM pada siswa     kelas XI IPA -5 semester 2 tahun pelajaran 2013/2014.
           2. Mendeskripsikan peningkatan kompetensi fungsi limit setelah diberikan pembelajaran dengan menggunakan model Jigsaw dengan aplikasi BBM pada kelas XI IPA-5  semester 2 tahun pelajaran 2013/2014.
       3. Mendeskripsikan perubahan tingkah laku/sikap siswa yang menyertai peningkatan kompetensi fungsilimit setelah diberikan pembelajaran melalui model Jigsaw dengan aplikasi BBM pada  kelas XI IPA-5 semester 2 tahun pelajaran 2013/2014.

D. Manfaat Penelitian
1.     Bagi peserta didik hasil penelitian ini dapat dijadikan motivasi untuk meningkatkan prestasi belajar, khususnya dalam peningkatan hasil belajar pada materi fungsi limit.
2.  Bagi guru hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan untuk meningkatkan    kompetensi guru dengan menciptakan metode pembelajaran yang variatif, dan menyenangkan melalui    pemilihan metode yang tepat khususnya dalam pembelajaran fungsi limit.
 3)  Kepala Sekolah hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah dalam hal pemilihan model pembelajaran.



BAB II
LANDASAN TEORETIS

A.   Landasan Teori
     Menurut  Endrati (2010) dalam penelitiannya yang berjudul “ Peningkatan Kompetensi Fungsi Turunan  dengan Model STAD, Aplikasi Partinem-Ku  pada Kelas XI IPA-7 SMA Negeri I Purworejo Semester 2 Tahun Pelajaran 2010/2011”,  menunjukan bahwa dengan metode STAD, aplikasi PARTINEM-KU  prestasi belajar peserta didik meningkat pada siklus 1 prosentase ketuntasan  70% dan pada  siklus 2 menjadi 96,6%.
Menurut Suryadharma (2011) dalam penelitiannya yang berjudul “Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Matematika melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif  Tipe Jigsaw pada Siswa Kelas XII IPA SMA Negeri 1 Dompu Semester 1 Tahun Pelajaran 2012/2013, menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw  terjadi peningkatan aktivitas dan hasil belajar pada Matematika siswa kelas XII IPA SMA Negeri 1 Dompu semester 1 tahun pelajaran 2012/2013 yaitu pada siklus I dengan nilai rata-rata  sebesar 75,00 dan pada siklus II meningkat menjadi 80,20. Sedangkan ketuntasan belajar siswa pada siklus I sebesar 77,50% meningkat pada siklus II mencapai 87,50%. Aktivitas siswa pada siklus I tergolong katagori kurang aktif, pada siklus II meningkat menjadi aktif.
Ada bermacam-macam metode yang digunakan pada PTK di atas  yaitu STAD dan metode kooperatif model Jigsaw, dimana keduanya adalah strategi, dan teknik pembelajaran yang diterapkan di dalam kelas. Pendekatan tersebut ditempuh guru dalam pelaksanaan pembelajaran agar konsep yang disajikan dapat diadaptasi oleh peserta didik. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa suatu pendekatan dalam pembelajaran di tempuh oleh pendidik supaya peserta didik lebih aktif, lebih bisa bekerja sama dan saling menghormati pendapat orang lain serta mendapatkan hasil belajar yang optimal.
Berdasarkan  penelitian di atas bahwa materi fungsi limit mempunyai kompleksitas yang tinggi dibuktikan dengan banyaknya peserta didik yang masih mendapat nilai dibawah KKM, dan pada penelitian di atas menunjukan perlunya suatu perubahan metode maupun pendekatan yang sesuai untuk materi fungsi limit.

B.   Kajian Pustaka
1.  Pembelajaran Kooperatif Jigsaw
 Shlomo Sharan (2012: 411) mengatakan bahwa  pembelajaran kooperatif  menempati tempat utama dalam pengajaran matematika. Pembelajaran kooperatif dengan kelompok-kelompok kecil mampu menyediakan sebuah forum dimana siswa dapat mengajukan pertanyaan, mendiskusikan gagasan/jawaban,  membuat kesalahan, belajar mendengarkan ggasan orang lain, menawarkan kritik yang  membangun dan meringkas penemuan-penemuan mereka dalam tulisan. Para siswa belajar dari berbicara, mendengarkan , menjelaskan dan berpikir bersama orang lain.
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, model ini dikembangkan oleh Elliot Aronson dan teman-temannya di Universitas Texas. Dan diadopsi oleh slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkins. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah sebuah model pembelajaran yang menitikberatkan pada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil. Hal yang mendasar pada model Jigsaw ini adalah siswa sebagai anggota kelompok asal pada dasarnya memiliki sebuah pemahaman konsep sedangkan konsep-konsep lain didapatkan melalui diskusi kelompok dengan anggota kelompoknya. Guru sebagai motivator dan mediator pada saat diskusi kelompok asal maupun kelompok ahli berlangsung.
Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw memiliki sejumlah keunggulan bila dibandingkan dengan tipe yang lainnya. Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw antara lain sebagai berikut.
1)  Siswa secara individu dalam kelompok asal diberikan materi persub   bab, sehingga lebih mudah memahami materi;
2)  Melalui diskusi kelompok ahli, pemahaman materi menjadi lebih mendalam dan spesifik;
3)  Meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain;
4)  Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan pada kelompok asal, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompok yang lain, sehingga pengetahuannya jadi bertambah;
5)  Meningkatkan kerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan.
Walaupun model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw memiliki sejumlah keunggulan sebagaimana diuraikan di atas, model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain sebagai berikut.
1)  Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw memerlukan persiapan khusus yang menuntut guru bekerja ekstra misalnya dalam mempersiapkan LKS atau media lainnya, sehingga kurang diminati oleh guru dalam pembelajaran di kelas.
2)  Membutuhkan waktu yang lebih lama, bila penataan ruang belum terkondisi dengan baik sehingga perlu waktu untuk merubah posisi yang dapat menimbulkan kegaduhan.
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw:
a.  Siswa dibagi atas beberapa kelompok (tiap kelompok anggotanya 4-5 orang).
b.  Materi pelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa sub bab.
c.   Setiap anggota kelompok membaca sub bab yang ditugaskan dan bertanggung jawab untuk mempelajarinya.
d.   Anggota dari kelompok lain yang telah mempelajari sub bab yang sama bertemu dalam kelompok-kelompok ahli untuk mendiskusikannya.
e.  Setiap anggota kelompok ahli setelah kembali ke kelompoknya bertugas mengajar teman-temannya.
f.    Setiap anggota kelompok asal diharapkan memahami materi/konsep yang sama melalui diskusi dalam kelompoknya.
g.  Guru memberikan tes tulis pada siswa untuk dikerjakan yang memuat seluruh konsep yang didiskusikan

2.  Pembelajaran BBM      
Pada kesempatan ini penulis akan memperkenalkan Pembelajaran BBM ( Berpikir Aktif, Berdiskusi dan Mempresentasikan).
1.    Berpikir aktif dalam matematika.
          Berpikir  aktif atau yang akrab kita kenal dengan istilah Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Learning (SAL). Pengertian CBSA sendiri tidak mudah didefinisikan secara tegas, sebab bukankah belajar itu sendiri wujud dari keaktifan siswa. Keaktifan ada yang tidak dapat diukur atau diamati, misalnya menggunakan khasanah pengetahuannya untuk memecahkan masalah serta dalam memilih teorema-teorema.
Menurut Tim Instruktur PKG sebagaimana dikutip oleh Surya Dharma (2011:16), siswa dikatakan memiliki keaktifan apabila ditemukan ciri-ciri sebagai berikut.
a)  Antusiasme mengikuti pembelajaran ditandai dengan adanya perilaku: a) memperhatikan penjelasan guru, b) tidak mengerjakan pekerjaan lain saat mengikuti pembelajaran, c) spontan bekerja apabila diberi tugas, dan d) tidak terpengaruh situasi di luar kelas.
b)  Terjadi interaksi antara siswa dengan guru ditandai dengan adanya peran siswa dalam: a) bertanya kepada guru, b) menjawab pertanyaan guru, c) memanfaatkan guru sebagai narasumber, dan d) memanfaatkan guru sebagai fasilitator.
c)  Terjadi interaksi antara siswa dengan siswa ditandai dengan adanya perilaku: a) bertanya kepada teman dalam satu kelompok, b) menjawab pertanyaan teman dalam satu kelompok, c) bertanya kepada teman dalam kelompok lain, dan d) menjawab pertanyaan teman dalam kelompok lain.
d)  Adanya kerjasama kelompok ditandai dengan perilaku: a) membantu teman dalam kelompok yang menjumpai masalah, b) meminta bantuan kepada teman, jika mengalami masalah, c) mencocokkan jawaban/konsepsinya dalam satu kelompok, dan d) Adanya pembagian tugas dalam kelompok.
e)  Aktivitas siswa dalam kelompok ditandai dengan adanya peran siswa dalam: a) mengemukakan pendapat, b) menanggapi pertanyaan/pendapat teman sejawat, c) mengerjakan tugas kelompok, dan d) menjelaskan pendapat/pekerjaannya.
f)   Partisipasi siswa dalam menyimpulkan materi pelajaran dapat dilihat dengan adanya perilaku siswa: a) mengacungkan tangan untuk ikut menyimpulkan, b) merespon pernyataan/simpulan temannya, c) menyempurnakan simpulan yang dikemukakan oleh temannya, dan d) menghargai pendapat temannya.

2.    Berdiskusi Secara Berkelompok
Moh. Surya (1975:107) mendefinisikan diskusi kelompok merupakan suatu proses bimbingan dimana murid-murid akan mendapatkan suatu kesempatan untuk menyumbangkan pikiran masing-masing dalam memecahkan masalah bersama. Dalam diskusi ini tetanam pula tanggung jawab dan harga diri. 
Moh. Uzer Usman (2005:94) menyatakan bahwa diskusi kelompok merupakan suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan atau pemecahan masalah.
Berdasarkan pengertian diskusi kelompok tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa diskusi kelompok yaitu suatu cara atau teknik bimbingan yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka, dimana setiap anggota kelompok akan mendapatkan kesempatan untuk menyumbangkan pikiran masing-masing serta berbagi pengalaman atau informasi guna pemecahan masalah atau pengambilan keputusan. Dalam diskusi kelompok anggota kelompok menunjuk moderator (pimpinan), menentukan tujuan, dan agenda yang harus ditaati.

3.    Menjelaskan / Mempresentasikan
Presentasi berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti menyajikan atau mengemukakan. Atau secara jelasnya presentasi bisa diartikan menyajikan atau mengemukakan informasi kepada orang lain dengan tujuan bermacam-macam seperti, memberi tahu, mempengaruhi ataupun mengajak (persuasif).
Tujuan dari presentasi dalam proses pembelajaran bermacam-macam, misalnya untuk memberi informasi, untuk meyakinkan peserta, menyampaikan pesan dan bahkan untuk melakukan penilaian.

C.   KERANGKA BERPIKIR
         Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dengan aplikasi BBM ini bukan suatu alternatif bagi pendekatan pembelajaran matematika yang lain melainkan lebih sebagai komplemen (pelengkap) bagi pendekatan lainnya. Pendekatan BBM ini dikhususkan untuk melatih keteramplian berpikir lebih tinggi yaitu mengomunikasikan.
         Secara umum dalam pembelajaran dengan aplikasi BBM, peserta didik menjelaskan jawaban dengan bahasanya sendiri, memperoleh kesenangan dalam menemukan jawaban yang diharapkan, berperan aktif dalam menyatakan pendapatnya, dan memperoleh pengalaman menemukan atau mencari hal-hal baru dengan menggunakan pengetahuan, keterampilan dan penalaran matematis yang telah dimiliki sebelumnya.
        Dalam pembelajaran  BBM  kreativitas siswa dapat berkembang, pengalaman BBM yang dilakukan secara individu dan kelompok yang dilanjutkan dengan kegiatan diskusi antar kelompok dapat menumbuhkan sikap positif pada diri siswa. Peserta didik belajar menghargai pendapat dan hasil pekerjaan orang lain, serta berani mengemukakan pendapatnya sendiri.
Dengan pembelajaran model Jigsaw aplikasi BBM  diharapkan partisipasi siswa dalam pembelajaran matematika  kelas XI IPA-5 akan meningkat sehingga akhirnya hasil belajar peserta didik juga meningkat pula.



   D. HIPOTESIS TINDAKAN
Dengan model pembelajaran jigsaw dengan aplikasi BBM ini  diharapkan  peserta didik kelas XI IPA-5 SMA Negeri 3 Purwokerto dapat mengikuti proses pembelajaran dengan serius, menguasai materi dan meningkatkan prestasi belajarnya. Melalui model pembelajaran tipe Jigsaw dengan aplikasi BBM dapat merubah tingkah laku/sikap  peserta didik kelas XI IPA-5 SMA Negeri 3 Purwokerto.




BAB III
      METODE PENELITIAN


A.   Subyek Penelitian dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 3 Purwokerto yang terletak di Jl Kamandaka Barat no 3 Karangsalam Kecamatan Kedung Banteng  Kabupaten Banyumas pada bulan April – Mei. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA-5 SMA Negeri 3 Purwokerto semester 2 tahun pelajaran 2013-2014 yang berjumlah 36 peserta didik. Penerapan penelitian ini diterapkan dalam pokok bahasan fungsi limit. Obyek dari penelitian ini adalah meningkatkan kompetensi fungsi limit.
B.   Jenis dan Prosedur Penelitian
      Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Adapun pelaksanaan penelitian tindakan ini dilakukan dalam 2 siklus, dan dianalisis pada setiap siklus,selanjutnya dilakukan refleksi pada siklus pertama.
Prosedur penelitian ini dapat dijelaskan melalui Gambar 1.
Pelaksanaan penelitian ini mengikuti prosedur sebagai berikut : (1) perencanaan; (2) pelaksaan tindakan; (3) pemantauan (observasi) dan refleksi (4)


Keterangan Gambar :

Mulai/berakhir

Kotak masukan/keluaran

Kotak instruksi/operasi

Kotak Keputusan
 
 











Siklus 1
a.  Perencanaan
       Kegiatan yang akan dilakukan pada tahap perencanaan adalah (a) Penetapan  Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), (b) Penyusunan perangkat pembelajaran yang terdiri : (1) Bahan  Ajar, (2) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), (3) Lembar Kegiatan Siswa (LKS),  (6) Alat evaluasi berupa tes produk dan tes proses.
b.  Pelaksanaan Tindakan
       Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran langsung pelaksanaannya sebagai berikut (a) Guru menyampaikan tujuan, (2) Guru mendemonstrasikan dan menemukan solusi materi pelajaran,(3) Guru memberikan latihan awal tentang materi yang telah dipelajari, (4) Guru memberikan latihan lanjutan tentang materi yang telah dipelajari.
c. Observasi
Pemantauan atau observasi dengan penelitian adalah kegiatan mengamati dan mendokumentasi segala sesuatu yang berkaitan dengan tindakan yang dilakukan.
d. Refleksi dan Analisis
Kegiatan refleksi ini dapat dipandang sebagai upaya untuk memahami dan memaknai proses dan hasil.

Siklus II
Perencanaan tindakan hasil refleksi pada siklus I digunakan sebagai dasar menyusun perencanaan pada siklus II. Kegiatan yang dilakukan adalah: (1) membuat RPP,(2) mempersiapkan lembar observasi, (3) mempersiapkan lembar wawancara (4) mempersiapkan lembar kerja siswa sebagai media pembelajaran, (5) mempersiapkan soal tes.
a. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan pada siklus II pada intinya sama seperti pada siklus I  yaitu guru mengajar siswa dengan menggunakan RPP yang telah dibuat.
b.Observasi
Observasi dilakukan oleh peneliti.
c.Refleksi
 Refleksi siklus II digunakan untuk membedakan hasil siklus I dengan siklus II apakah ada peningkatan partisipasi dari hasil belajar siswa atau tidak.

C.   Indikator Kinerja
Indikator yang dapat diperoleh 85 %  siswa mampu mengerjakan soal-soal materi yang diberikan pada saat penelitian dengan nilai diatas KKM.

D.   Teknik Pengumpulan Data
  Sumber data  adalah  siswa, sedangkan guru sebagai peneliti. Data dalam penelitian ini yaitu data kualitatif berupa data hasil observasi terhadap proses pembelajaran (pelaksanaan tindakan) dan data kuantitatif yang berupa hasil pekerjaan siswa berupa tes buatan guru. Cara pengumpulan data yaitu tes tertulis dan lembar observasi.

E.   Teknik Analisis Data
           Analisis proses tindakan dilakukan secara kualitatif. Sementara itu, analisis hasil tindakan dilakukan secara kuantitatif. Analisis proses tindakan (kualitatif) dilakukan  guru pada saat refleksi yang didasarkan dari data yang ada.
         Hasil tes siswa pada akhir siklus dihitung rata-ratanya. Hasil tes pada siklus I dibandingkan dengan siklus II. Jika mengalami kenaikan maka diasumsikan model pembelajaran yang digunakan yaitu model pembelajaran kooperatif  tipe Jigsaw  dalam pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis deskriptif dengan menghitung prosentase.
   Rumusnya sebagai   berikut :
Rata-rata = Jumlah Nilai yang diperoleh siswa : Jumlah siswa

F.    Indikator Keberhasilan
   Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah (1)  Meningkatnya partisipasi siswa dalam pembelajaran matematika fungsi limit yang dilihat selama proses pembelajaran berlangsung, maupun dari peningkatan rata-rata prosentase setiap aspek partisipasi yang diamati yaitu (a) Mengajukan pertanyaan jika ada hal-hal yang belum jelas.(b) menjawab pertanyaan yang diajukan, (c) Mengerjakan tugas secara tuntas, (d) Ikut serta dalam diskusi, mencatat materi pelajaran, (e) Mengerjakan soal di papan tulis, (f) Mengerjakan tes secara individu, (g) Menyimpulkan materi pelajaran di akhir pertemuan (2) Meningkatnya rata-rata hasil belajar fungsi limit dari rendah menjadi tinggi, (3) Perubahan tingkah laku/sikap anak dalam mengikuti pembelajaran.




BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYA

 A. Deskripsi Setting Penelitian
Setting dalam penelitian ini adalah SMA Negeri 3 Purwokerto, terletak di Jalan Kamandaka Barat No 3. Subyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA-5 SMA Negeri 3 Purwokerto.

B. Hasil Penelitian
1.    Prasiklus
Kegiatan prasiklus dilaksanakan pada hari senin 7 April 2014. Prasiklus dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal materi fungsi limit, sebelum peserta didik diberi tindakan. Kegiatan awal ini mengulang kembali materi prasyarat limit fungsi yang sudah diterima sebelumnya dengan memberikan latihan soal yang berhubungan dengan pemfaktoran, merasionalkan dan perkalian sekawan.
2.    Siklus 1
Pertemuan Pertama
a.    Perencanaan
Pada tahap perencanaan dilakukan persiapan pembelajaran fungsi limit dengan menyusun rencana pembelajaran terlebih dahulu sesuai tindakan yang akan dilakukan dengan memperhatikan aplikasi BBM.
b.  Tindakan
Tindakan yang dilakukan disesuaikan dengan RPP yang telah disusun.Pelaksanaan tindakan dalam siklus 1 meliputi apersepsi, proses pembelajaran, dan evaluasi. Pada kegiatan ini peneliti akan membegi peserta didik menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4 peserta didik yang heterogen (laki-laki dan perempuan berasal dari berbagi ras, dan kemampuannya heterogen). Setelah itu guru membagikan LKS ke masing-masing kelompok untuk dikerjakan.
                  Gambar 1. Guru membimbing siswa dalam kerja kelompok
Pada gambar 1 tampak peserta didik mulai mengerjakan LKS, Dengan aplikasi BBM tampak bahwa peserta didik bertanggung jawab dengan tugas yang diberikan, dengan kelompoknya mereka bisa saling membantu. Setelah selesai masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi yang telah dilakukan.
       
Pertemuan kedua
Gambar 2. Ulangan Harian
         Pada pertemuan ini  diadakan ulangan harian. Adapun hasil ulangan harian  dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1. Hasil Pre test dan UH 1
No
Jenis Soal
Rata-rata
Tertinggi
Terendah
% Tuntas
1
Pre Test
66,3
95
23
52%
2
UH 1
78,7
100
65
81%

        c.  Refleksi
          Berdasarkan hasil tes dan nontes di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pada siklus 1 ini belum memuaskan. Pada hasil tes terlihat bahwa rata-rata pada 78,7% dan termasuk kategori cukup. Sehingga belum mencapai target yang ditentukan karena masih ada peserta didik yang belum tuntas, sedang target yang ditentukan semua peserta didik harus tuntas.
3.  Siklus II
Pertemuan Pertama
       a. Perencanaan/Persiapan
           Peneliti menyusun rencana pembelajaran dengan tindakan yang berbeda dengan tindakan pada siklus 1. Penyusunan rencana pembelajaran dibuat peneliti..
          b.Tindakan
Pada pertemuan pertama dalam siklus 2 ini, guru membentuk kelompok belajar dalam satu kelompok terdiri dari empat peserta didik, yang pengelompokannya  berdasarkan hasil tes pada siklus 1 dan heterogen.
               Gambar 3.  Mengerjakan LKS pada kelompok di siklus 2
         Setelah 30 menit maka guru segera meminta peserta didik untuk menyiapkan presentasi. Karena ada 9 kelompok dan masing- masing kelompok ada yang mendapatkan LKS yang sama , maka untuk presentasi kali ini tidak semua kelompok mempresentasikan hasil diskusinya.
Gambar 5 Presentasi
Pertemuan kedua
Pada pertemuan kedua ini merupakan lanjutan dari pertemuan pertama. Pembahasan pekerjaan rumah dan pelatihan berlangsung 30 menit dan setelah itu guru segera menyelesaikan materi terakhir pada fungsi limit yaitu limit tak hingga.
Pertemuan ketiga
Pada pertemuan ketiga adalah pelaksanaan UH pada siklus 2
               Gambar 6 UH siklus 2
c.    Monitoring Penelitian
Selama proses pembelajaran berlangsung, peneliti melakukan pengamatan terhadap peserta didik dengan menggunakan lembar observasi. Setelah kegiatan pembelajaran selesai guru mengadakan wawancara dengan beberapa peserta didik untuk mengetahui tanggapan, kesan dan pesan peserta didik selama mengikuti pembelajaran

    d.  Refleksi
Pada siklus 2  diperoleh catatan dari lembar observasi tentang keaktifan peserta didik yang diperoleh selama pembelajaran sebagai data kualitatif. Sedangkan data kuantitatif diambil dari hasil tes setelah proses pembelajaran selesai. Hasilnya dibandingkan dengan hasil tes pada siklus 1. Adapun hasil ulangan harian pada siklus 1 dirata-rata dan dibandingkan dengan hasil tes siklus 2. Ternyata nilai rata-rata siklus 2 lebih tinggi dibanding siklus 1. Untuk nilai tertinggi 100, demikian pula untuk yang nilai terendah dari 65 menjadi 70. Ketuntasan kelas juga mengalami kenaikan dari 81% menjadi 86%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajarann pada siklus 2 mengalami peningkatan yang signifikan dari siklus1.
Perbandingan  hasil tes siklus 1 dan hasil tes siklus 2
              Peningkatan hasil belajar pada siklus 1 dan siklus 2 dapat dilihat pada tabel hasil tes pada siklus 1 dan hasil tes pada siklus 2
Tabel 2. . Perbandingan  hasil tes siklus 1 dan hasil tes siklus 2
No
Jenis Tagihan
Rata-rata
Tertinggi
Terendah
% Tuntas
1
Pra Siklus
66,3
94
23
52%
2
Siklus 1
78,7
100
65
81%
3
Siklus 2
83
100
70
86%



    Histogram peningkatan hasil belajar pada siklus 1 dan siklus 2





BAB V
PENUTUP


A.           SIMPULAN
1.    Dalam proses pembelajaran peserta didik menjadi lebih aktif, antusias, dan suasana kelas menjadi lebih hidup. Hasil analisis nilai kompetensi fungsi limit makin meningkat.
2.    Penggunaan model pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw  dengan aplikasi BBM dapat meningkatkan kompetensi fungsi limit pada kelas XI IPA-5 semester 2 tahun pelajaran 2013/2014 dapat dilihat peningkatan ketuntasan hasil belajar dari prosentase 81%  pada siklus 1 menjadi 86% pada siklus 2.
3.    Pada siklus II terjadi perubahan tingkah laku, sikap peserta didik nyata bisa    dilihat dari cara berdiskusi, bekerja sama dalam menyelesaikan masalah atau tugas yang diberikan guru. Hal ini menunjukan bahwa kegiatan pembelajaran dengan model Jigsaw  dan aplikasi BBM dapat merubah tingkah laku peserta didik kelas XI IPA-5 SMA Negeri 3 Purwokerto semester 2 tahun pelajaran 2013/2014.
B. SARAN
1.    Bagi peserta didik yang sudah mempunyai hasil baik harus tetap dipertahankan dan bagi yang masih dalam kategori cukup perlu ditingkatkan.
2.    Bagi peneliti yang lain, dapat mengadakan penelitian dengan menggunakan model Jigsaw dan aplikasi BBM pada pokok bahasan lain .
3.    Bagi sekolah, pembelajaran ini perlu dikembangkan lagi dan ditindaklanjuti sebagai alternatif metode pembelajaran pada mata pelajaran yang lain..
DAFTAR PUSTAKA


Montarsih, 2009. Petunjuk Praktis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang ( UM ) Press.

Shlomo Sharan, The Handbook Of Cooperatif Learning.  Yogyakarta : Penerbit Familia

Suliyanto, 2012. Analisis Statistik. Yogyakarta: Penerbit Andi Yogyakarta


Suharsimi Arikunto, 2010. Penelitian Tindakan Untuk Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas. Yogyakarta: Penerbit Aditya Media

Subyantoro. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

................. 2012. Modul PLPG Matematika. Purwokerto : Penerbit Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Surya Darma, 2011. Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Matematika melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif  Tipe Jigsaw pada Siswa Kelas XII IPA SMA Negeri 1 Dompu Semester 1 Tahun Pelajaran 2012/2013.Laporan Penelitian

Endrati, 2010. Peningkatan Kompetensi Fungsi Turunan  dengan Model STAD, Aplikasi Partinem-Ku  pada Kelas XI IPA-7 SMA Negeri I Purworejo Semester 2 Tahun Pelajaran 2010/2011”. Laporan Penelitian













BIODATA PENULIS

Nama Lengkap               :   Elya Tati Subarkah,S.Pd
Tempat tanggal lahir     :   Banyumas, 12 Januari 1976
Alamat Rumah               :   Pasir Wetan Rt 03 Rw 02
                                              Karanglewas
Alamat Instansi/Kantor :   Jl Kamandaka Barat No 3 Karangsalam Kedung Banteng Purwokerto
Agama                             :   Islam
Nomor Telepon              :   081327503633
Riwayat Pendidikan      :   SDN 2 Pasir Wetan
                                              SMPN 4 Purwokerto
                                              SMAN 2 Purwokerto
                                              UNNES Semarang
                                             

Lampiran 1

Jadwal Kegiatan

Siklus
Hari/tanggal
Kegiatan
Instrumen
Observer
Pra Siklus
















Siklus 1

Kamis, 10 April
2014















Kamis, 24 April 2014
1.Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa

2. Menyampaikan petujuk/informasi

3. Guru menjelaskan Pengertian limit

4. Guru memberikan letihan-latihan soal.

5. Guru memberi PR.


6.Mengorganisasikan siswa ke dalam      kelompok-kelompok (4 siswa)
7.Membimbing kelompok kerja dan belajar























LKS 1,2,3.4







Peneliti

















Peneliti mengevaluasi pelajaran yang telah dipelajari dengan masing-masng kelompok melaporkan hasil kerjanya.

Jumat,25 April 2014
8.latihan soal
soal
Peneliti

Sabtu, 26 April 2014
9.Evaluasi
soal
Peneliti
Siklus 2
Kamis, 1 Mei 2014
10.Mengorganisasikan siswa ke dalam Kelompok-kelompok kecil (36 siswa)



11.  Membimbing kelompok kerja dan belajar belajar
LKS
Peneliti






Peneliti mengevaluasi pelajaran yang telah dipelajari dengan masing-masing kelompok melaporkan hasil kerjanya.

Jumat,2 Mei 2014
12.Materi 
soal
Peneliti


Sabtu,3 mei 2014
13.Evaluasi
soal
Peneliti